PERSAMAAN DAN PERBEDAAN AGAMA
LOBBY UTAMA
ONLINE TV
DIALOG AGAMA dan MASALAH PENDANGKALAN AGAMA
KASKUS
PENGERTIAN AGAMA
SINISME TERHADAP AGAMA
FAEDAH AGAMA
PERSAMAAN DAN PERBEDAAN AGAMA
KERUKUNAN UMAT BERAGAMA
TOLERANSI UMAT BERAGAMA
PERAN UMAT BERAGAMA DALAM AGAMA DAN MASYARAKAT
PERAN AGAMA
PERAN AGAMA di INDONESIA YANG PLURALISTIK
PERAN UMAT DALAM AGAMANYA
PERAN UMAT BERAGAMA DI/DALAM MASYARAKAT
PERAN AGAMA [UMAT BERAGAMA] PADA BIDANG POLITIK
AGAMA DAN NEGARA
MASYARAKAT SEJAHTERA
MASYARAKAT DESA
MASYARAKAT MISKIN
MASYARAKT MISKIN DI INDONESIA
PEREMPUAN
KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN
KEKERASAN TERHADAP ANAK
MAKNA KEBUDAYAAN
HUBUNGAN MANUSIA - KEBUDAYAAN
PENDIDIKAN
TANTANGAN-TANTANGAN DUNIA PENDIDIKAN DI INDONESIA
ILMU PENGETAHUAN DAN TEKHNOLOGI
SENI DAN SENIMAN
KERJA dan PROFESI
KERJA dan ISTIRAHAT
SIKAP DALAM KERJA
ETIKA
NILAI-NILAI HIDUP DAN KEHIDUPAN
HAK ASASI MANUSIA
PELANGGARAN HAM
KEKERASAN dan KERUSUHAN SOSIAL
| PERSAMAAN DAN PERBEDAAN AGAMA Oleh JAPPY PELLOKILA
Pada umumnya manusia mempunyai mobilitas cukup tinggi, sehingga mereka dapat berpindah-pindah ke pelbagai wilayah. Jika pada wilayah baru, terasa pas dan cocok maka mereka akan membangun komunitas. Di komunitas itu, secara bersama, mereka kemudian menjalankan kebiasaan, unsur-unsur budaya, adat istiadat, serta cara-cara menyembah Ilahi, sambil melakukan adaptasi sesuai dengan sikon lingkungan hidup. Demikian juga, jika penganut agama [karena berbagai alasan] berpindah ke wilayah dan komunitas masyarakat baru, maka tidak menutup kemungkinan, ia akan memperkenalkan apa yang dianut kepada orang lain. Cara penyembahan sederhana berkembang menjadi Agama Mobilitas masyarakat itu, biasanya diikuti dengan adanya adaptasi serta interaksi sosial dengan sesama dan lingkungan hidup, akibatnya terjadi berbagai perubahan. Salah satu perubahan adalah perkembangan bentuk-bentuk penyembahan kepada Ilahi dalam komunitas suku dan sub-suku pada suatu lokasi tertentu. Bentuk-bentuk penyembahan sederhana [mungkin juga tidak ada ajaran tertulis] tersebut, karena perkembangan intelektual penganut agama terutama para pemimpinnya, dikembangkan menjadi sistem ajaran dan penyembahan yang kompleks serta terstruktur. Kompleksitas itu kemudian diikuti dengan intensitas [ataupun ekspansi] penyebaran yang dilakukan oleh para penganutnya [dan melewati batas-batas geografis dan budaya], sehingga semakin banyak orang mengikuti sistem ajaran dan penyembahan tersebut. Semakin banyak orang mengikuti sistem ajaran dan melakukan penyembahan, bisa saja terjadi kesimpangsiuran dan kekacauan; oleh sebab itu, memerlukan keteraturan dan ketertiban. Sistem ajaran harus terstruktur; bentuk-bentuk penyembahan dan cara menyembah harus diatur agar tertib; tempat penyembahan harus ditetapkan lokasinya; hari-hari atau waktu penyembahan harus ditentukan; dan lain-lain. Semuanya itu terhisab dalam satu kata yaitu a-gama [tidak kacau]. Jadi, agama pada awalnya hanya merupakan pagar pembatas agar manusia tidak kacau ketika melakukan penyembahan kepada Ilahi. Akan tetapi, pada perkembangannya, manusia yang beragama [terutama para pemimpin keagamaan] menjadikan agama sebagai identitas kelompok bangsa, suku, dan sub-suku. Agama seringkali digunakan sebagai simbol perbedaan pada masyarakat. Agama tidak lagi menjadi sarana utama untuk menyembah TUHAN, melainkan lambang pembeda seseorang dengan yang lain. Bahkan, agama telah menjadi sarana untuk menggapai kedudukan dan kekuasaan politik serta alat penindasan terhadap sesama manusia.
|
| PERBEDAAN AGAMA-AGAMA Oleh Jappy Pellokila
Pada masa kini, [termasuk di Indonesia] sulit menemukan kaum agamawan [khususnya pemimpin-pemimpinnya], berani menyatakan ada persamaan pada agama-agama. Kaum agama dengan mudah mengungkapkan superior agama, seakan-akan tidak ada satupun titik kesamaan pada agama-agama. Akibatnya, tokoh agama berlomba mengkesampingkan yang lain; sedikit yang berusaha menunjukkan persamaan. Padahal, ada banyak hal yang merupakan persamaan agama-agama, dan cuma sedikit perbedaan. Lalu, di mana letak persamaan dan perbedaan tersebut? Namun, perlu diingat bahwa bukan kata agama yang berbeda ataupun sama, melainkan semua hal yang terhisab dalam agama. Faktor-faktor yang menunjukkan perbedaan dan persamaan agama, yaitu
Dengan demikian, faktor-faktor luar tersebutlah yang membuat agama berbeda; atau lebih tepatnya menjadikan umat beragama semakin berbeda satu sama lain.
|
My Phone Numbers
PERSAMAAN AGAMA-AGAMA Oleh Jappy Pellokila
Di samping perbedaan itu, ada banyak hal yang menunjukkan kesamaan agama-agama. Kesamaan tersebut bukan sekedar pada arti kata agama, melainkan menyangkut hal-hal lain yang lebih spesifik. Faktor-faktor persamaan agama-agama antara lain:
Tampilan diri umat beragama [yang baik dan benar] selalu menunjukkan bahwa mereka mendapat didikan dan bimbingan keagamaan; dan akan menghasilkan hidup dan kehidupan moral positif. Dengan itu, berbagai tindakan serta perilaku sosial manusia [khususnya umat beragama] sehari-hari merupakan akibat dari manusia batiniah yang mendapat bimbingan keagamaan. Ajaran-ajaran agama yang berhubungan dengan percaya dan iman serta ajaran moral harus dipraktekkan melalui tindakan-tindakan nyata. Jika tidak, maka agama menjadi sesuatu tak berarti. |

