MASYARAKAT SEJAHTERA
| MASYARAKAT SEJAHTERA Oleh Jappy Pellokila
Kesejahteraan bermakna adanya keutuhan, sentosa, keselarasan, kebahagiaan, keselamatan, berkat, dan ketertiban. Damai sejahtera muncul karena ada kebenaran, Yes 32:17. Damai sejahtera terjadi jika segala sesuatu terlaksana sesuai kehendak TUHAN Allah. Oleh sebab itu, Yesus hadir agar terjadi damai sejahtera kepada semua manusia. Dan pesan damai sejahtera tersebut, perlu disampaikan kepada siapapun yang ditemui dalam masyarakat, “Kalau kamu memasuki suatu rumah, katakanlah lebih dahulu: damai sejahtera bagi rumah ini. Dan jikalau disitu ada orang yang layak menerima damai sejahtera, maka salammu itu akan tinggal atasnya,” Luk 10:5-6. Ini berarti, damai sejahtera harus diteruskan kepada seluruh manusia di manapun ia berada.
Upaya menghantar atau memasuki kesejahteraan eskhatologis hanya bisa terjadi jika yang mengupayakan tersebut memiliki damai sejahtera. Ia harus memiliki damai sejahtera yang sejati dari TUHAN Allah, “Semoga Allah, sumber pengharapan, memenuhi kami dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman kamu, supaya oleh kekuatan Roh Kudus kamu berlimpah-limpah dalam pengharapan,” Rom 15:13. Karena, “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah,” Rom 8:28. Kesejahteraan merupakan anugerah TUHAN Allah, yang mencakup damai sejahtera dalam negeri, Im 26:6; hasil pertanian yang baik sehingga tersedianya makanan, tidak ada bencana kelaparan, Maz 147:14; Yer 14:13. Pada masa Yesus, ada banyak orang yang menunjang pelayanan dan kesaksian-Nya dengan kekayaan mereka, Luk 8:1-3; dengan tujuan untuk membantu kaum miskin. Alkitab tidak mengungkapkan dengan jelas tentang munculnya orang-orang kaya di tengah masyarakat, serta menghasilkan [ada] masyarakat yang mempunyai kekuasaan, kekuatan dan kekayaan. Pada masa itu, kekuasaan diidentik dengan penguasaan wilayah dan sekaligus orang-orang yang ada di dalamnya; kekuatan diidentik dengan kemampuan melindungi serta mempertahankan diri dari berbagai serangan binatang buas dan tindak kejahatan; sedangkan kekayaan, ditandai dengan banyak ternak, perak, emas, tembaga, besi dan dengan pakaian yang sangat banyak, sejumlah besar budak, serta mempunyai isteri lebih dari satu. Semuanya itu sebagai tanda-tanda atau lambang-lambang kesejahteraan. Identifikasi itu, menjadikan hanya sedikit manusia yang bisa dikategorikan sebagai masyarakat sejahtera. Mereka adalah para pemuka [pemimpin dan pahlawan] lokal, bangsawan, para raja dan keluarganya; ataupun masyarakat [rakyat] biasa, akibat kerja keras. Kesejahteraan juga diidentik dengan luasnya pengaruh dan adanya loyalitas, keseganan dari orang lain; umur panjang, mendapat penghormatan dan kehormatan. Adanya orang kaya harus dikaitkan dengan perhatian mereka kepada masyarakat miskin atau kemiskinan. Dengan demikian, masyarakat sejahtera [terutama secara materi] diharapkan dapat membuka peluang agar orang lain keluar dari keadaannya yang kekurangan. Pada umumnya, keadaan masyarakat sejahtera [dengan ukuran tertentu] adalah mereka yang berada atau berdiam di pusat-pusat perdagangan dan politik; atau mereka yang tinggal atau berada di perkotaan; serta menjadi bagian dari masyarakat kota dan industri. Pandangan seperti itu, menjadikan banyak sekali masyarakat desa [ataupun mereka yanng miskin] menuju ke kota dengan tujuan meningkatkan taraf hidup dan kehidupannya. Padahal, dalam kenyataanya, tidak semua masyarakat kota dan industri atau berdiam di pusat-pusat politik dan ekonomi mempunyai taraf hidup lebih baik dari penduduk desa. Masyarakat perkotaan pun penuh dengan pelbagai permasalahn sosial, kebudayaan, benturan nilai, hukum, politik, kriminal dan lain sebagaainya. Benturan-benturan antara masyarakat pedatang [kaum urban] dan kaum miskin kota, seringkali berdampakan pada kerusuhan sosial berdasrkan SARA. Dalam banyak hal mungkin mereka lebih baik dari masyarakat desa, namun bisa saja sebaliknya. Masyarakat di perkotaan pun masih mempunyai berbagai ciri khas yang membedakan satu sama lain, misalnya
Pada sikon kekinian, identifikasi masyarakat sejahtera masih tetap sama seperti masa lalu. Artinya, seseorang akan mengalami sejahtera jika ia bisa mempengaruhi orang lain, mendapat loyalitas, disegani, berumur panjang, mendapat penghormatan dan kehormatan, dan seterusnya. Dan keadaanya tetap sama, yaitu adanya kaitan dengan harta benda atau kekayaan. Akan tetapi, umumnya masyarakat sejahtera atau orang-orang kaya [hampir] tidak mempunyai perhatian kepada kaum miskin dan kemiskinannya; padahal, secara teologis dan sosiologis, mereka diharapkan dapat membuka peluang agar orang lain keluar dari keadaannya yang kekurangan.
|

